Minggu, 18 Oktober 2015

Karangan Ilmiah, Non Ilmiah dan Metode Ilmiah



Pengertian Karangan Ilmiah
      Suatu karangan atau tulisan yang diperoleh sesuai dengan sifat keilmuannya dan didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isisnya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya/ keilmiahannya.”—Eko Susilo, M. 1995:11

Tujuan dari pembuatan karangan ilmiah, antara lain :
  • Memberi penjelasan 
  • Memberi komentar atau penilaian 
  • Memberi saranMenyampaikan sanggahan 
  • Membuktikan hipotesa
Karya ilmiah ada 4 aspek yang menjadi karakteristik utamanya, yaitu :
Struktur sajian
       Struktur sajian karya ilmiah sangat ketat, biasanya terdiri dari bagian awal (pendahuluan), bagian inti (pokok pembahasan), dan bagian penutup. Bagian awal merupakan pengantar ke bagian inti, sedangkan inti merupakan sajian gagasan pokok yang ingin disampaikan yang dapat terdiri dari beberapa bab atau subtopik. Bagian penutup merupakan simpulan pokok pembahasan serta rekomendasi penulis tentang tindak lanjut gagasan tersebut.

Komponen dan substansi
    Komponen karya ilmiah bervariasi sesuai dengan jenisnya, namun semua karya ilmiah mengandung pendahuluan, bagian inti, penutup, dan daftar pustaka. Artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal mempersyaratkan adanya abstrak.

Sikap penulis
      Sikap penulis dalam karya ilmiah adalah objektif, yang disampaikan dengan menggunakan gaya bahasa impersonal, dengan banyak menggunakan bentuk pasif, tanpa menggunakan kata ganti orang pertama atau kedua.

Penggunaan bahasa
      Bahasa yang digunakan dalam karya ilmiah adalah bahasa baku yang tercermin dari pilihan kata/istilah, dan kalimat-kalimat yang efektif dengan struktur yang baku.

  • Laporan penelitian. Laporan yang ditulis berdasarkan penelitian. Misalnya laporan penelitian yang didanai oleh Fakultas dan Universitas, laporan ekskavasi arkeologis yang dibiayai oleh Departemen Kebudayaan, dsb. 
  • Tulisan ilmiah untuk mendapatkan gelar akademik sarjana strata satu (Si). 
  • Tulisan ilmiah untuk mendapatkan gelar akademik strata dua (S2), yaitu Master. 
  • Tulisan ilmiah untuk mendapat gelar akademik strata tiga (S3), yaitu Doktor. 
  • Surat pembaca. Surat yang berisi kritik dan tanggapan terhadap isi suatu tulisan ilmiah.
  • Laporan kasus. Tulisan mengenai kasus-kasus yang ada yang dilandasi dengan teori.
Sifat karya ilmiah
Secara formal harus memenuhi syarat:
  • Lugas dan tidak emosional : mempunyai satu arti, sehingga tidak ada tafsiran sendiri-sendiri (interprestasi yang lain). 
  • Logis : disusun berdasarkan urutan yang konsisten. 
  • Efektif : satu kebulatan pikiran, ada penekanan dan pengembagan. 
  • Efisien : hanya mempergunakan kata atau kalimat yang penting dan mudah dipahami
 Jenis-jenis karya ilmiah
Secara umum karya ilmiah di perguruan tinggi, menurut Arifin (2003), dibedakan menjadi:
  • Makalah 
  • Kertas kerja 
  • Skripsi 
  • Tesis 
  • Disertasi
Pengertian Karangan Semi Ilmiah 
        sebuah penulisan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan dan penulisannya pun tidak semiformal tetapi tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah yang sintesis-analitis karena sering di masukkan karangan non-ilmiah.
Sifat Karangan Semi Ilmiah
  • Ditulis berdasarkan fakta pribadi 
  • Fakta yang disimpulkan subjektif
  •  Gaya bahasa formal, sederhana, dan popular 
  • Tidak memuat hipotesis 
  • Penyajian fakta dibarengi dengan sejarah 
  • Bersifat imajinatif 
  • Situasi didramatisir 
  • Bersifat persuatif
Bentuk dan jenis Karangan Semi Ilmiah
Bentuk dan jenis karangan ilmiah antara lain : Artikel, Editorial, Opini, Feuture, Reportase.

Pengertian Karangan non ilmiah
        karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, tidak didukung fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang popular atau biasa digunakan (tidak terlalu formal).

Ciri-ciri Karya Non Ilmiah
  • Ditulis berdasarkan fakta pribadi, 
  • Fakta yang disimpulkan subyektif, 
  • Gaya bahasa konotatif dan populer, 
  • Tidak memuat hipotesis, 
  • Penyajian dibarengi dengan sejarah, 
  • Bersifat imajinatif,
  • Situasi didramatisir, 
  • Bersifat persuasif.
  •  Tanpa dukungan bukti
Sifat Karangan Non Ilmiah
· Emotif yaitu sedikit informasi, kemewahan & cinta menonjol, melebihkan kebenaran, mencari keuntungan, tidak sistematis,
· Persuasif yaitu Cukup informatif, penilaian fakta tidak dengan bukti, bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap dan cara berpikir pembaca,
· Diskriktif yaitu informatif sebagian imaginatif dan subyektif, nampaknya dapat dipercaya, pendapat Pribadi,
· Kritik tanpa dukungan bukti yaitu tidak memuat informasi spesifik, berisi bahasan dan kadang-kadang mendalam tanpa bukti, berprasangka menguntungkan atau merugikan, formal tetapi sering dengan bahasa kasar.

Macam-Macam Karya Non Ilmiah
  • Cerpen 
  • Dongeng 
  • Novel 
  • Drama
 METODE ILMIAH
        adalah langkah - langkah yang ditempuh oleh peneliti dalam menjawab pertanyaan pertanyaan atas masalah masalah dan keingintahuannya terhadap fenomena-fenomena yang terjadi sehingga dihasilkan jawaban yang akurat dan obyektif sehingga mampu diterima secara universal dan dianggap valid.
                                          
Tujuan Mempelajari Metode Penulisan Ilmiah
    Tujuan adalah bentuk harapan untuk di masa yang akan datang. Dalam penulisan ilmiah juga memiliki tujuan yang ingin dicapai. Yaitu :
- Meningkatkan keterampilan dalam mengorganisasikan dan menyajikan fakta secara sistematis.
- Meningkatkan kemampuan dalam menulis berbagai karya tulis.
- Meningkatkan pengetahuan tentang mekanisme penulisan karangan ilmiah.

Sikap Ilmiah
    Secara umum, sikap adalah suatu kesiapan yang senantiasa cenderung untuk berperilaku atau bereaksi dengan cara tertentu bilaman diperhadapkan dengan suatu masalah atau objek. Beberapa sikap ilmiah dikemukakan oleh Mukayat Brotowidjoyo (1985:31-34) yang biasa dilakukan para ahli dalam menyelesaikan masalah berdasarkan metode ilmiah, antara lain :
- Sikap ingin tahu
- Sikap kritis
- Sikap obyektif
- Sikap ingin menemukan
- Sikap tekun

Langkah Langkah Metode Ilmiah
a. Perumusan masalah
      Bertujuan untuk memperjelas masalah. Dengan mengajukan beberapa atau serangkaian pertanyaan terhadap masalah yang ada.

b. Penyusunan rencana
          Rencana penelitian dibuat dalam bentuk rancangan penelitian. Bentuknya dengan membuat tujuan penelitian, penyusunan hipotesis, menetapkan variabel penelitian, memilih alat dan bahan, menetapkan langkah kerja atau metode penelitian. menentukan populasi dan sampel.

c. Melakukan penelitian
         Bertujuan untuk menguji hipotesis yang kita buat menggunakan rancangan percobaan yang telah disusun.

d. Menyusun kesimpulan penelitian 
         Pembuatan kesimpulan penelitian harus berdasarkan pada hasil penelitian dan tetap berpedoman pada pandangan yang objektif.

e. Melakukan penelitian perbaikan
          Suatu penelitian akan menjadi valid secara ilmiah apabila penelitian tersebut dapat diuji ulang baik oleh peneliti yang lain. Oleh karena itu, seluruh teori yang ada pasti terdapat banyak peneliti yang menjadi kontributor.

f. Menulis laporan ilmiah
         Menjadi suatu kewajiban mutlak bagi anda sebagai peneliti untuk dapat dikatakan bernilai ilmiah. hasil penelitian dipublikasikan agar hasil yang diperoleh dalam penelitian tersebut dapat diketahui orang lain. Dan dalam jurnal ilmiah, kerangka tulisan ilmiah disusun secara berurutan dari judul, kata pengantar, daftar isi, pendahuluan, bahan dan metode, hasil dan pembahasan, daftar pustaka, dan juga lampiran.

Penalaran Ilmiah, Berpikir Deduktif dan Induktif


1. Pengertian Penalaran
       Menurut Minto Rahayu, (2007 : 35), “Penalaran adalah proses berpikir yang sistematis untuk memperoleh kesimpulan atau pengetahuan yang bersifat ilmiah dan tidak ilmiah, dengan berusaha menghubung – hubungkan fakta. Karena dengan mengamati fakta, kita dapat menghitung, mengukur, menaksir, memberikan ciri-ciri, mengklasifikasikan, dan menghubung-hubungkan. Jadi, dasar berpikir adalah klasifikasi. Dan bernalar juga akan membantu manusia berpikir lurus, efisien, tepat, dan teratur untuk mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan.

Sedangkan Widjono, (2007 : 209), mengungkapkan penalaran dalam beberapa definisi, yaitu:
  • Proses berpikir logis, sistematis, terorganisasi dalam urutan yang saling berhubungan sampai dengan simpulan
  •  Menghubung-hubungkan fakta atau data sampai dengan suatu simpulan.
  • Proses menganalisis suatu topik sehingga menghasilkan suatu simpulan atau pengertian baru. 
  • Dalam karangan terdiri dari dua variabel atau lebih, penalaran dapat diartikan mengkaji, membahas, atau menganalisis dengan menghubungkan variabel yang dikaji sampai menghasilkan suatu derajat hubungan dan simpulan.
  •  Pembahasan suatu masalah sampai menghasilkan suatu simpulan yang berupa pengetahuan atau pengertian baru.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa penalaran adalah proses pemikiran yang logis untuk memperoleh kesimpulan berdasarkan fakta yang relevan (sebenarnya). Atau dengan kata lain, penalaran adalah proses penafsiran fakta sebagai dasar untuk menghasilkan dan menarik kesimpulan.

Pengertian Proporsi
     Proporsi adalah istilah yang digunakan untuk kalimat pernyataan yang memiliki arti penuh atau utuh. Yaitu pernyataan mengenai hal-hal yang benar dan salah. Proposisi mempunyai beberapa jenis, antara lain:
  • Proposisi empirik yaitu proposisi berdasarkan fakta. 
  • Proposisi mutlak yaitu pembenaran yang tidak memerlukan pengujian untuk menyatakan benar atau salahnya.  
  • Proposisi hipotetik  yaitu persyaratan huungan subjek dan predikat yang harus dipenuhi. 
  • Proposisi kategoris yaitu tidak adanya persyaratan hubungan subjek dan predikat.  
  • Proposisi positif universal yiatu pernyataan positif yang mempunyai kebenaran mutlak.  
  • Proposisi positif parsial yaitu pernyataan bahwa sebagian unsur pernyataan tersebut bersifat positif.  
  • Proposisi negatif universal, kebalikan dari proposisi positif universal.  
  • Proposisi negatif parsial, kebalikan dari proposisi negatif parsial.
 Definisi Inferensi
        Inferensi adalah tindakan yang berasal dari proses kesimpulan logis dari premis – premis yang diketahui atau sudah dianggap benar.

Definisi Implikasi
        Yaitu suatu akibat langsung atau konsekuensi atas temuan hasil suatu penelitian.

Wujud Evidensi
         Adalah semua fakta yang ada, yang dihubung – hubungkan untuk membuktikan adanya sesuatu. Karena Evidensi adalah hasil pengukuan dan pengamatan fisik yang digunakan untuk memahami suatu fenomena.

Cara Menguji Data
         Untuk menguji data, kita memerlukan data dan informasi dan, data dan informasi yang digunakan dalam penalaran harus berupa fakta. Maka dari itu ini beberapa cara yang dapat digunakan untuk pengujian data :
  • Observasi
  • Kesaksian
  • Autoritas

Jenis – Jenis Metode Penalaran

Dibedakan menjadi 2 yaitu :
  • Metode Deduktif, dan 
  • Metode Induktif 

2. Metode Deduktif

       Deduksi berasal dari bahasa Inggris deduction yang berarti penarikan kesimpulan dari keadaan-keadaan yang umum, menemukan yang khusus dari yang umum. Deduksi adalah cara berpikir yang di tangkap atau di ambil dari pernyataan yang bersifat umum lalu ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus. Jadi deduksi adalah proses berfikir yang bertolak dari sesuatu yang umum (prinsip, hukum, toeri, keyakinan) menuju hal khusus. Berdasarkan sesuatu yang umum itu ditariklah kesimpulan tentang hal-hal yang khusus yang merupakan bagian dari kasus atau peristiwa itu.

Macam – macam Penalaran Deduktif
        a. Silogisme kategorial
   adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan kategorial. Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat dibedakan menjadi premis mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan premis minor ( premis yang termnya menjadi subjek). Yang menghubungkan di antara kedua premis tersebut adalah term penengah (middle term). 
Contoh:                  
- Semua tumbuhan membutuhkan air. (Premis Mayor)
- Akasia adalah tumbuhan (premis minor).
- Akasia membutuhkan air (Konklusi)

        b. Silogisme Hipotesis
      Silogisme hipotesis atau silogisme pengandaian adalah semacam pola penalaran deduktif yang mengandung hipotese. Silogisme hipotetis bertolak dari suatu pendirian, bahwa ada kemungkinan apa yang disebut dalam proposisi itu tidak ada atau tidak terjadi. Premis mayornya mengandung pernyataan yang bersifat hipotesis. Oleh karena sebab itu rumus proposisi mayor dari silogisme ini adalah:
Jika P, maka Q           
Contoh :
Premis mayor : Jika tidak turun hujan, maka panen akan gagal.
Premis minor  : Hujan tidak turun.
Konklusi         : Sebab itu panen akan gagal.

        c. Silogisme Alternatif
Silogisme alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Kesimpulannya akan menolak alternatif yang lain. 
Contoh:
            -  Nenek Sumi berada di Bandung atau Bogor.
-  Nenek Sumi berada di Bandung.
-  Jadi, Nenek Sumi tidak berada di Bogor.

3. Metode Induktif
          Metode berpikir induktif dimana cara berpikir dilakukan dengan cara menarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Untuk itu, penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang yang kusus dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum. Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum.
                    
Macam – Macam Penalaran Induktif

  • Generalisasi : Proses penalaran yang mengandalkan beberapa pernyataan yang mempunyai sifat tertentu untuk mendapatkan simpulan yang bersifat umum.
a. Generalisasi Sempurna / Tanpa loncatan induktif
    Fakta yang diberikan cukup banyak dan meyakinkan.
    Contoh :  
       - Sensus Penduduk.
       - Jika dipanaskan, besi memuai.
       - Jika dipanaskan, baja memuai.
       - Jika dipanaskan, tembaga memuai.
         Jadi, jika dipanaskan semua logam akan memuai.
b. Generalisasi Tidak Sempurna / Dengan loncatan induktif
    Fakta yang digunakan belum mencerminkan seluruh fenomena yang ada.
    Contoh :      
   Setelah kita menyelidiki sebagian bangsa Indonesia bahwa mereka adalah manusia yang  suka bergotong-royong, kemudian kita simpulkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang suka bergotong-royong.

  • Hipotesis dan Teori
          Hipotesis adalah proposisi yg masih perlu diuji, sedangkan          
          Teori adalah proposisi yg telah teruji.
Contoh :         
- Semua kucing yang bermata biru adalah tuli (Darwin dalam ilmu biologi)
- Tidak ada hewan yang bertanduk dan berkuku telapak adalah pemakan daging
- Anak kecil yang pernah terluka jari-jarinya karena bermain-main denganpisau akan berhati-hati bila di saat lain dia menggunakan pisau
- Ilmu ilmu kealaman semuanya disusun berdasarkan generalisasi tidak sempurna, demikian pula ilmu sosial
  • Analogi              
          Merupakan penarikan kesimpulan berdasarkan kesamaan data atau fakta. Pada analogi      biasanya membandingkan 2 hal yang memiliki karakteristik berbeda namun dicari persamaan yang ada di tiap bagiannya.  
Tujuan dari analogi :
    - Meramalkan kesamaan.
    - Mengelompokkan klasifikasi.
    - Menyingkapkan kekeliruan.
Contoh :              
Ronaldo adalah pesepak bola.
Ronaldo berbakat bermain bola.
Ronaldo adalah pemain real madrid. 
  •       Kausal 
                Merupakan proses penarikan kesimpulan dengan prinsip sebab – akibat.     
         Terdiri dari 3 pola, yaitu :
a. Sebab ke akibat = Dari peristiwa yang dianggap sebagai akibat ke kesimpulan sebagai efek.
    Contoh : Karena terjatuh di tangga, Kibum harus beristirahat selama 6 bulan.
b. Akibat ke sebab = Dari peristiwa yang dianggap sebagai akibat ke kejadian yang dianggap   penyebabnya.
    Contoh : Jari kelingking Leeteuk patah karena memukul papan itu.
c. Akibat ke akibat = Dari satu akibat ke akibat lainnya tanpa menyebutkan penyebabnya.

  • Induksi dalam Metode Eksposisi
               Eksposisi adalah salah satu jenis pengembangan paragraf dalam penulisan yang dimana isinya ditulis dengan tujuan untuk menjelaskan atau memberikan pengertian dengan gaya penulisan yang singkat, akurat, dan padat. Karangan ini berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi dengan grafik, gambar atau statistik. Sebagai catatan, tidak jarang eksposisi ditemukan hanya berisi uraian tentang langkah/cara/proses kerja. Eksposisi demikian lazim disebut paparan proses.

Langkah menyusun eksposisi:                       
- Menentukan topik/tema
- Menetapkan tujuan
- Mengumpulkan data dari berbagai sumber
- Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
- Mengembangkan kerangka menjadi karangan eksposisi